Wednesday, 10 May 2017

Little Nightmares


Little Nightmares
Genre: Adventure
Developer: Tarsier Studios
Publisher: BANDAI NAMCO Entertainment
Release Date: 28 Apr, 2017
Minimum:
OS: Windows 7, 64-bit
Processor: Intel CPU Core i3
Memory: 4 GB RAM
Graphics: Nvidia GTX 460
DirectX: Version 11
size 3.5 Gb

Review Little Nightmares: Ketika Dongeng dan Mimpi Buruk Menyatu!


Ada satu fenomena menarik yang muncul dari kesuksesan LIMBO dari PlayDead. Benar sekali, kehadiran sebuah genre game platformer puzzle dengan cita rasa 2D atau 2.5D dengan atmosfer horror atau thriller yang mengemuka jadi daya tarik utama. Tak seperti game side-scrolling pada umumnya yang seringkali diasosiasikan dengan gameplay gila dan super menyenangkan dengan desain karakter kartun yang terkadang mengundang gelak tawa, LIMBO memperlihatkan bahwa sebuah game serius dengan tema super gelap bisa dibangun di atasnya. Sebuah pendekatan yang kemudian ditawarkan kembali oleh PlayDead lewat INSIDE, dan kemudian oleh Tarsier Studios dan Bandai Namco lewat Little Nightmares.
Di awal pengenalannya, game yang sempat memuat nama sekedar “Hunger” sebelum diserahkan kepada Bandai Namco ini, memang terlihat memukau. Implementasi Unreal Engine 4 yang menjadi basisnya membuatnya terlihat seperti sebuah sebuah game platformer yang menawan. Ada sensasi misteri yang kental lewat desain dunia yang terlihat unik dan menyeramkan di saat yang sama, dibalut dengan karakter utama – seorang tokoh anak perempuan yang terlihat begitu polos dan lemah. Kombinasi yang sepertinya cukup untuk membuat Anda semakin penasaran untuk mencari jawaban apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Little Nightmares ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang melebur dongeng dan mimpi buruk menjadi satu? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

PLOT
Seperti yang dilakukan PlayDead dengan LIMBO dan INSIDE, Little Nightmares juga tidak mempresentasikan cerita utama secara eksplisit, layaknya game-game modern pada umumnya. Bahwa tak seperti game yang biasanya memulai awal gameplay dengan membangun latar belakang cerita, karakter, dan sejenisnya, Anda akan langsung disuguhi dengan kontrol atas seorang anak perempuan kecil dengan jas hujan berwarna kuningnya yang terlihat begitu cerah dan terang, apalagi di tengah dunia yang kelam dan gelap.
Lewat deskripsi langsung dari Tarsier Studios lah, kita bisa mendapatkan sedikit gambaran apa yang sebenarnya tengah terjadi. Anak perempuan yang Anda perankan sendiri bernama Six, yang entah karena alasan apa, tiba-tiba terperangkap di dalam sebuah dunia  menyeramkan bernama The Maw. The Maw sendiri berisikan begitu banyak figur-figur manusia dengan bentuk aneh yang kesemuanya sepertinya terhubung dalam satu garis merah – menikmati makan besar seperti orang-orang dengan rasa lapar yang tak pernah bisa terpenuhi. Seperti yang bisa diprediksi, Six harus keluar dari tempat ini dengan selamat.
Lantas, mampukah Six menyelamatkan diri? Ancaman seperti apa saja yang harus ia hadapi? Apa pula The Maw itu sebenarnya? Jawaban dari semua pertanyaan tersebut akan bisa Anda dapatkan dengan memainkan Little Nightmares ini.
Pilihan untuk menggunakan Unreal Engine 4 sebagai basis untuk Little Nightmares seperti menjadi keputusan yang pantas untuk diacungi jempol. Namun bukan karena sekedar kualitas detail di sisi visualisasi yang membuat game yang satu ini mengagumkan, melainkan kekuatan kreatif pada talenta di belakangnya yang harus diakui, berhasil menciptakan sebuah dunia yang pantas untuk diacungi jempol. The Maw adalah sebuah dunia yang sisi estetikanya siap untuk membuat Anda menahan napas, tetapi di sisi lain, secara konsisten akan membuat bulu kuduk Anda merinding. Semuanya dicapai tanpa menggunakan cara “murahan” seperti jump-scare, misalnya.
Kontras antara sang karakter utama yang diposisikan sebagai anak perempuan yang terlihat polos dan visualisasi The Maw yang terlihat korup dan penuh dosa memperkuat atmosfer yang siap untuk membuat Anda bergidik. Presentasinya The Maw sendiri juga dilakukan dengan eksplisit, tetapi tetap mempertahankan elemen misteri di atasnya. Anda bisa melihat bagaimana mayat yang disinyalir mengakhiri hidupnya tergantung begitu saja di salah satu kamar hingga bagaimana Six harus tenggelam di dalam sebuah “kolam” yang berisikan sepatu-sepatu usang tanpa pemilik yang jumlahnya bisa ribuan. Apa yang terjadi dengan pemilik-pemilik sepatu ini? Game ini tak akan “menjelaskannya” kepada Anda begitu saja.
Setting yang ditawarkan di dalam The Maw itu sendiri memang pantas untuk diacungi jempol. Sebagian besar “taman bermain” Anda berakhir menjadi furniture atau perlengkapan kamar normal yang kini bisa Anda panjat semata-mata karena ukuran Anda yang kecil. Bagian terbaiknya? Walaupun tanpa menggunakan dialog sama sekali, Anda juga bisa merasakan aura ancaman yang kentara untuk setiap makhluk yang Anda temui. Desainnya terasa menyeramkan dan siap untuk membuat Anda merasa tidak nyaman. Dari sekedar monster buta dengan tangan panjang, sepasang koki kembar dengan pisau super besar, hingga terjangan para makhluk-makhluk gendut yang mengejar Anda seperti layaknya gelombang lemak yang mematikan. Little Nightmares menawarkan sebuah dunia yang mengagumkan.
Implementasi Unreal Engine 4 tentu saja membuat beberapa sisi teknis dan detail semakin baik. Tata cahaya yang memesona dan dramatis di beberapa situasi, apalagi mengingat kegelapan yang mendominasi keseluruhan permainan, hingga sekedar efek percikan darah atau anggur yang akan membuat mata Anda sulit untuk berpaling. Little Nightmares juga membubuhkan sedikit efek grain untuk membuat situasi terasa lebih mencekam dan ekstra sensasi sinematik di atasnya. Menyamakan sensasi menikmatinya seperti menonton film-film dari Tim Burton memang sebuah perbandingan yang pantas.
(Jagatplay)

No comments:

Post a Comment