Friday, 25 March 2011

Bulletstrorm

Developer: People Can Fly
Publisher: Electronic Arts Inc.
Similar Games: Gears of War
Genre: Sci-Fi First-Person Shooter
Media: 2 DVD


Bulletstorm! Salah satu game FPS yang paling ditunggu di tahun 2011 akhirnya tiba juga di kantor kami. Dengan ekspektasi yang tinggi, mengingat nama besar yang dibawa oleh game ini, kami tidak sabar untuk segera mencobanya. Beberapa screnshot sudah kami lempar untuk memberikan kepada Anda gambaran yang lebih jelas tentang game tersebut. Tetapi setelah mencobanya, benarkah kualitas yang dihadirkan akan membuat Bulletstorm menjadi game FPS yang diingat sepanjang zaman?
Memang tidak perlu dipungkiri bahwa Bulletstorm memang lahir dari tangan dingin People Can Fly dan Epic Games, studio game yang terkenal dengan franchise Gears of Wars yang menjadi fenomena baru di dunia game. Tidak heran kemudian cukup banyak gamer yang berharap Bulletstorm, yang menjadi game FPS pertama EPIC, akan “tertular” kualitas tersebut. Sayangnya, saya secara pribadi tidak menangkap “keistimewaan” tersebut secara jelas. Seperti apa lengkapnya?
 Dalam Bulletstorm, kita berperan sebagai sosok tokoh protagonis maskulin bernama Grayson Hunt yang dulunya merupakan anggota elite Dead Echo, kelompok tentara elite Konfederasi Planet di abad ke-26. Pada suatu misi, Hunt diminta oleh sang pemimpin tentara – General Serrano untuk menyelesaikan sebuah misi pembunuhan yang sederhana. Bersama dengan karakter bernama Ishi dan rekan timnya yang lain, Hunt kemudian menemukan bahwa orang-orang yang hendak dibunuh oleh timnya merupakan orang-orang yang tidak bersalah sama sekali. Hunt merasa dikhianati.
 Tokoh protagonis di Bulletstorm pun juga mengalami konsep “konflik” yang sama yang biasa kita temukan di hampir semua game. Atas dasar moral, Hunt kemudian berbalik melawan General Serrano dan memutuskan untuk keluar dari Dead Echo. Sejak itu Hunt dan Ishi serta seluruh anggota timnya menjadi buronan dari tim Dead Echo itu sendiri. Alternatif pekerjaan yang paling bagus setelah keluar dari kemiliteran? Menjadi seorang penjahat kelas kakap. Sebuah alasan klise lain yang kemudian menjadikan Hunt sebagai seorang sky pirates.
 Hunt yang seringkali berada di bawah pengaruh minuman keras (lagi-lagi alasan klise..) kemudian memutuskan untuk menggunakan pesawatnya yang super kecil untuk menyerang kapal milik Dead Echo, yang ukurannya ratusan kali lipat dengan senjata yang seribu kali lebih kuat. Lantas apakah Hunt ada kemungkinan untuk menang? Tentunya! jagoan di dunia game memang selalu mampu melakukan apa saja yang mereka inginkan. Dengan mengorbankan sang pesawat, Hunt akhirnya dapat menghancurkan mesin pesawat Dead Echo tersebut dan memaksanya untuk jatuh di planet terdekat. Planet yang membuat hidup Hunt sendiri tersiksa luar biasa.
Pesawat kecil Hunt juga dipaksa untuk jatuh mengikuti pesawat besar tersebut. Mereka akhirnya terdampar di sebuah planet bernama Stygia yang secara “kebetulan” memuat semua hal yang tidak dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Monster, kelompok manusia kanibal, mutant, tumbuhan pemakan manusia, raksasa-raksasa tidak bersahabat, yang dipadukan dengan kehadiran tentara Dead Echo yang mondar-mandir di seluruh planet. Seperti biasa, Anda HANYA perlu untuk selamat dari itu semua dan mencari jalan keluar dari planet terkutuk tersebut. Hunt sendiri juga berkeinginan untuk membuat perhitungan dengan General Serrano yang ternyata juga ikut terdampar. Apakah Hunt dapat melakukannya? Semuanya tergantung kemampuan Anda untuk menghujani setiap musuh yang ada dengan peluru yang dimiliki. Menyenangkan? Hell yeah!

 

Tendangan Maut dan Cambuk Sakti Hunt

Seperti pada tipikal permainan game FPS pada umumnya, senjata api dengan kekuatan merusak yang besar tentu saja akan dihadirkan di dalam Bulletstorm. Namun, elemen utama ini ternyata tidak memainkan peran yang terlalu penting, karena Anda akan “dianugerahi” dengan dua senjata tersakti yang pernah Anda lihat di industri game yakni kaki dan cambuk dari Hunt itu sendiri. Keduanya bahkan lebih menyeramkan dibandingkan sekadar shotgun atau machine gun yang ada di tangan.
Hunt memang memiliki kemampuan untuk menendang musuh dengan kuat. Setiap tendangannya akan menghasilkan efek merusak yang cukup katastropik pada setiap musuh yang beruntung mendapatkannya. Tendangan tersebut akan membuat musuh melayang dalam gerak lambat. Gerakan lambat ini memungkinkan Anda melakukan segala macam hal kepadanya, mulai dari sekadar menembaknya hingga tewas atau menendangnya kembali hingga jatuh ke luar gedung. Semuanya dapat dilakukan dengan tendangan yang sederhana ini. Satu hal yang menjadi masalah adalah tendangan tentunya membutuhkan jarak yang dekat untuk dieksekusi. Bagaimana caranya menendang musuh yang terus memberondong Anda dengan peluru yang seakan tak pernah berhenti? Untungnya Epic sudah memikirkan hal tersebut dan menghadiahi Anda senjata kedua yang mendukung hal tersebut. Sebuah cambuk sakti.

Teknologi leash ini sebenarnya merupakan peralatan utama dari tentara elite Dead Echo. Selain mampu menghasilkan sinar laser yang mampu menarik musuh ke arah kita, leash sendiri juga berperan sebagai alat komunikasi dan perekam gerak penggunanya. Itu secara teoritis di dalam game ini, namun Anda akan lebih sering menggunakannya untuk menarik musuh ke arah Anda. Percaya atau tidak, leash secara perlahan akan menjadi senjata utama Anda untuk menyelesaikan game ini. Saya sendiri sering mengkombinasikannya dengan tendangan maut milik Hunt untuk membunuh sebagian besar musuh yang ada. Tinggal tarik, tendang, tarik lagi, tendang lagi, hingga ego kita terpuaskan.

Apakah strategi ini akan berlaku untuk semua musuh yang kita temui? Untungnya tidak, karena pasti akan sangat membosankan. Musuh di dalam Bulletstorm memang bervariasi, dari sekadar kelompok suku lokal dengan senjata melee atau api, mutant besar ganas, hingga tumbuhan raksasa pemakan manusia yang tampak menyeramkan. Senjata api yang Anda pegang akan sangat berguna untuk melawan kesemuanya itu. Lagipula, terkadang musuh-musuh yang sederhana juga akan datang dalam kelompok yang besar, membuat tendangan dan cambuk tidak efektif untuk secara cepat menyelesaikan pertempuran yang ada.
Jangan khawatir bila Anda akan kekurangan senjata untuk membasmi semua pihak yang menginginkan jantung Anda di meja makan mereka. Bulletstorm menyediakan varian senjata yang cukup banyak. Kesemua senjata memiliki efek serang yang cukup desktruktif. Dari machine gun, shotgun, sniper rifle dengan peluru pelacak kepala (?), hingga grenade launcher yang destruktif. Jika menurut Anda masih belum cukup, setiap senjata yang hadir memiliki alternatif tembakan yang lebih kuat, tentu saja dengan peluru yang terbatas. Anda juga bisa melakukan upgrade senjata dengan menggunakan skillpoints yang Anda dapatkan. Skill points? Yup, ini adalah feature utama yang membuat Bulletstorm berbeda dibandingkan game FPS yang sejenis.
Feature utama yang membuat Bulletstorm jauh berbeda dibandingkan dengan game FPS yang lain adalah hadirnya sistem skillpoint di dalamnya. Anda “dituntut” untuk membunuh setiap musuh yang ada dengan gaya membunuh yang sekeren mungkin. Anda akan diberi skill points dalam jumlah tertentu jika Anda bisa melakukannya. Misalnya saja, bila Anda menendang musuh keluar jatuh dari tempat yang tinggi, maka Anda akan mendapatkan skillpoints +50 untuk kategori Vertigo, +25 untuk headshots dan semacamnya. Setiap skillpoints yang Anda dapatkan akan berfungsi layaknya sebuah mata uang. Anda dapat melakukan upgrade senjata, membeli peluru dari setiap senjata yang ada, menambahkan kekuatan, membuka senjata yang baru, dan mengatur strategi pertempuran yang lebih baik menggunakan feature ini. Tidak hanya dari membunuh saja, Anda juga akan mendapatkan point ini dengan menekan tombol tertentu di berbagai event dalam game yang ada. Walaupun Anda dapat membunuh setiap musuh yang ada dengan mudah, perbedaan nilai skillpoints dalam gaya membunuh akan membuat Anda berpikir ulang. Lakukan dengan sederhana, nilai skillpoints rendah dan Anda akan kesulitan mendapatkan senjata yang baik. Lakukan dengan sedikit kompleks dengan sedikit strategi, nilai skillpoints akan tinggi, dan hidup di Stygia pun akan menjadi “tenteram”.

 

Monumen untuk Kekejaman yang Ekstrim!

Setiap game First Person Shooter yang hadir di industri game memang menawarkan kesempatan untuk membunuh setiap musuh yang ada dengan berbagai cara. Tembakan di kepala, tubuh yang sedikit terpotong, dengan darah yang keluar memang sesuatu yang kerap kali kita temukan di game FPS. Namun, apa yang ditawarkan oleh Bulletstorm membawanya ke dalam sebuah level yang jauh berbeda. Sebuah tingkat kekejaman yang cukup ekstrim dibandingkan generasi pendahulunya. Perkenalkan definisi baru untuk darah dan mutilasi di dalam game FPS.
Setiap desingan peluru yang berhamburan keluar dari moncong senjata Anda akan menghasilkan efek yang sangat buruk untuk tubuh musuh yang berada di depan Anda. Tubuh yang hancur akan menjadi sesuatu yang sering Anda temukan di Bulletstorm. Kepala yang hancur berantakan tanpa sisa, tubuh yang terpotong-potong hingga pecahan yang kecil, mutilasi bagian tubuh, darah yang membanjir dimana-mana membuat Bulletstorm mencapai sebuah level kekejaman yang baru. Apalagi dengan hadirnya berbagai akses environment yang membuat semua hal tersebut menjadi lebih mudah diakses : kaktus dengan duri, api, listrik, hingga mesin pemutar, apapun yang dapat membuat tubuh musuh Anda menjadi tidak bersisa sama sekali.
Anda harus mempertimbangkan hal ini jika Anda termasuk orang yang tidak suka dengan kekerasan yang ekstrim. Satu hal yang lebih penting lagi,  jauhkan game ini dari anak-anak yang belum cukup umur.

 

Kesimpulan


Bulletstorm secara garis besar memang merupakan game FPS yang menarik. Beberapa elemen baru yang dihadirkan di dalamnya, seperti sistem skillpoints dan melee attack yang mumpuni membuat game ini jauh berbeda dengan game lain yang bergenre sama. Namun, apakah hal tersebut membuat Bulletstorm menjadi game yang akan dikenang sepanjang masa? Sayangnya, menurut saya pribadi tidak sekuat itu. Epic Games gagal menghadirkan sebuah game yang mampu menampilkan pengalaman penuh kekaguman. Seiring permainan, Anda akan mulai menemukan kesan repetitif yang sangat kental.  Berbagai dramatisasi yang dihadirkan juga kurang berhasil menarik hati saya secara pribadi.
Anda justru akan disuguhi dengan berbagai kekerasan tingkat ekstrim yang cukup membuat sebagian besar orang berpikir dua kali untuk memainkannya. Walaupun kekerasan tersebut memang cenderung dibuat komikal dengan berbagai guyonan yang lucu, Bulletstorm memang membawa efek kehancuran tubuh ke level yang lebih jauh. Pantas atau tidak dimainkan? Bagi para penggemar game FPS, game ini wajib dimainkan. Namun, bagi mereka yang tidak terlalu suka dengan genre ini, saya tidak akan memaksa Anda untuk memainkan game ini.
sumber : jagatreview
 Minimum Requirement:
Windows XP/Vista/7
Core 2 Duo 1.6 GHz
1.5 GB RAM
9 GB hard disk space
256 MB Video Card (ATI Radeon HD2400 Pro or NVidia GeForce 7600)

No comments:

Post a Comment